Tugas Mandiri 4 Osmotik
Assalamualaikum wr.wb
Nama : Shafa Riandani
Kelas. : XII MIPA
Mapel : Kimia (Tugas Mandiri 4 - Osmotik)
Berikut adalah tugasnya :
Jawaban :
A. Apa yang akan terjadi pada sel darah merah jika kedalamnya dimasukkan larutan infus yang hipotenik? Berikan alasanmu?
Jawab :
Larutan Hipotonik (Hypotonic)
Jika sebaliknya tekanan dalam sel darah merah lebih kecil daripada tekanan cairan infus, maka sel darah merah akan menyerap air sehingga dinding sel akan mengembang dan pecah. Cairan hipotonik adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi Na lebih rendah dibandingkan serum),sehingga larut dalam serum dan menurunkan osmolaritas serum itu sendiri. Maka menyebabkan cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. cairan infus yang hipotonik digunakan pada keadaan sel yang mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan yang tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel,menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contoh cairan yang hipotonik adalah NaCl45% dan Dekstrosa 2,5%.
B. Apa yang akan terjadi pada sel darah merah jika kedalamnya dimasukkan larutan infus yang hipertonik? Berikan alasanmu?
Jawab :
Larutan Hipertonik (Hypertonic)
Jika tekanan dalam sel darah merah lebih besar daripada tekanan cairan infus (hipertonik), maka air dalam sel darah merah akan keluar, sehingga sel akan mengkerut. Cairan hipertonik adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel-sel ke dalam pembuluh darah yang mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi oedema (bengkak). Penggunaan kontradiktif dengan cairan hipotonik misalnya pada cairan Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-laktat, Dextroe 5%+NaCl 0,9%, produk darah dan albumin.
C. Bagaimana seharusnya kondisi larutan infus agar dapat dipergunakan pada kasus diatas ?
Jawab : Prinsip tekanan osmotik dalam penggunaan infus ini merupakan contoh penerapan sifat larutan koligatif di bidang kesehatan. Prinsip tekanan osmotik sebagai salah satu sifat koligatif larutan ditemukan oleh Jacobus Henricus van’t Hoff seorang pemenang nobel kimia tahun 1901 atas penelitiannya pada kinetic kimia tentang kesetimbangan kimia, tekanan osmotik, dan kristalografi.
Penelitiannya mengenai tekanan osmotik menunjukkan bahwa tekanan osmotik suatu larutan sebanding dengan konsentrasi dan suhu larutan tersebut.
Prinsip tekanan osmotik tidak hanya digunakan pada cairan infus. Minuman-minuman pengganti ion tubuh yang kini marak di kalangan masyarakat juga menggunakan prinsip ini sebagai dasar pembuatannya.
Salah satu sifat koligatif larutan adalah memiliki tekanan osmotik. Dengan adanya tekanan osmotik pada cairan infus maka cairan ini dapat masuk ke dalam darah pasien setelah melewati selaput permeabel darah.
Larutan infus dibuat bertekanan sama (isotonik) dengan tekanan cairan darah pasien. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan pada sel darah maupun pembuluh darah.
Jika tekanan cairan infus lebih tinggi (hipertonis) dari darah pasien maka akan terjadi pecahnya sel darah pasien akibat banyaknya cairan infus yang masuk ke dalam pembuluh darah. Namun jika tekanan cairan infus rendah (hipotonis) maka akan menyebabkan masuknya air ke dalam darah sehingga terjadi penggelembungan dan pecahnya sel darah.



Komentar
Posting Komentar